PENJELASAN
Alhamdulillah dengan rahmat Allah dan izin-Nya kita diberikan hidayah (petunjuk) di atas Islam dan Sunnah. Kita wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat hidayah. Kalau Allah tidak tunjuki kita di atas Islam, maka kita akan sesat, bingung, sengsara, menderita seumur hidup, akan disiksa di kubur dan dimasukkan ke dalam api Neraka wal iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah), اللهم إني أسألك العفو والعافية (Ya Allah, aku mohon maaf dan minta keselamatan).
Hidayah itu sangatlah mahal, dan kita wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat Islam. Allah berfirman:
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (Surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Rabb kami telah datang membawa kebenaran: Diserukan kepada mereka: Itulah Surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-A’raf (7): 43)
Rukun iman adalah keyakinan dan keimanan yang diwajibkan pada setiap muslim. Tidak sah keislaman seseorang kecuali dengan meyakininya.
Nabi pernah ditanya tentang iman, maka beliau bersabda:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari Akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.
Perbedaannya dengan rukun Islam ialah bahwa rukun Islam adalah amalan-amalan lahir yang ditunaikan oleh seseorang dengan anggota badannya, seperti melafalkan dua kalimat syahadat, shalat lima waktu sehari semalam, puasa di bulan Ramadhan, zakat, dan haji.
Sedangkan rukun iman adalah amalan-amalan hati yang diyakini oleh seseorang dengan hatinya, seperti iman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, iman kepada hari Akhir, dan iman kepada takdir baik dan buruk.
Masalah Rukun Iman adalah masalah yang sangat penting, masalah prinsip dasar dalam beragama, karena amal-amal tidak diterima kecuali dengan fondasi ini, sempurna dan tidaknya amal kita tergantung dengan keyakinan kita kepada Rukun Iman.
Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama. Rukun ini sangat penting kedudukannya dalam Islam. Sehingga wajib bagi kita untuk mempelajarinya dengan benar, supaya membuahkan aqidah yang benar tentang Allah.
Yang dimaksud dengan iman kepada Allah adalah beriman dengan keesaan Allah. Keesaan Allah pada rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya. Dari sini kita ketahui bahwasanya pokok iman kepada Allah dibangun di atas tiga rukun yang seorang hamba tidak dikatakan beriman dengan benar kepada Allah kecuali dengan mengimani rukun-rukun tersebut.
Rukun pertama dari rukun iman kepada Allah yaitu beriman dengan keesaan Allah kepada rububiyah-Nya.
Maksudnya adalah meyakini bahwasanya hanya Allah yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur alam ini, menghidupkan, mematikan. Dan bahwasanya seluruh perkara itu berada di tangan Allah. Dan seluruh makhluk semuanya berada di bawah aturan dan kekuasaan Allah.
Maka Allah adalah Rabb semesta alam, Pencipta seluruh alam ini. Dialah yang menguasai dan mengatur alam ini, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang memberi, Dialah yang menghalangi, yang mengangkat, yang menurunkan, Dialah yang memuliakan, Dialah yang menghinakan, Dialah yang menghidupkan, dan Dialah yang mematikan.
Seluruh perkara dan urusan berada di tangan Allah dan seluruh ciptaan adalah ciptaan Allah. Dia memutuskan apa yang Dia kehendaki. Tidak ada yang dapat menolak keputusan Allah.
Allah berfirman:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Rabb pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kapada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran (3): 26)
Allah juga berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
“Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada tuhan selain Dia: maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fathir (35): 3)
Rukun kedua dari rukun-rukun keimanan kepada Allah yaitu beriman dengan keesaan Allah pada uluhiyyah-Nya. Hanya Allah yang berhak disembah.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ…
“Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas mentaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama ….” (QS. Al-Bayyinah (98): 5)
Allah juga berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا…
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun ….” (QS. An-Nisa’ (4): 36)
Allah juga berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ…
“Dan sungguh Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah thaghut ….” (QS. An-Nahl (16): 36)
Allah juga berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ…
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia …. (QS. Al-Isra’ (17): 23)
Allah juga berfirman melalui lisan Nabi Ibrahim
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ (26) إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ (27)
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Allah yang menciptakanku: karena sungguh, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Az-Zukhruf (43): 26-27)
Dan ayat-ayat yang semakna dengan ayat ini sangat banyak sekali.
Maka beriman dengan keesaan Allah dalam uluhiyyah-Nya, yaitu dengan cara meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Serta mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah.
Seorang hamba wajib mengesakan Allah dalam ketundukan, dalam ruku’nya, dalam sujudnya, juga ketika ia menyembelih dan bernadzar serta ibadah-ibadah yang lainnya.
Dan ini adalah makna dari kalimat Ia ilaha illallah. Seorang yang mengatakan Ia ilaha illallah, maka konsekuensinya adalah ia tidak menyembah atau beribadah melainkan hanya kepada Allah saja, ia tidak berdoa kecuali kepada Allah, tidak beristighatsah kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali kepada Allah, tidak menyembelih kecuali untuk Allah, tidak bernadzar kecuali untuk Allah.
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)
“Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nyaj dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).” (QS. Al-An’am (6): 162-163)
Ia tidak mengangkat tangannya dalam berdoa kecuali meminta kepada Allah. Tidak boleh berkata: “Berilah kami pertolongan wahai Rasulullah,” atau “Berilah kami pertolongan wahai Fulan”. Karena orang yang mengatakan seperti ini berarti dia tidak mengetahui hakikat keimanan kepada Allah. Dan juga tidak mengetahui hakikat apa yang didakwahkan oleh para Rasul Allah yang telah diutus.
Allah berfirman:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ (5) وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ (6)
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Allah, (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat, dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat) niscaya sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya.” (QS. Al-Ahqaf (46): 5-6)
Allah menghukumi bahwa tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah dari kalangan makhluk yang tidak mampu mengabulkan doa mereka di dunia dan tidak merasakan doanya orang yang berdoa kepadanya. Ketika ditegakkan hari Kiamat dan dikumpulkan seluruh manusia, mereka (yang disembah selain Allah) memusuhi orang-orang yang berdoa kepadanya serta berlepas diri dari mereka.
Maka tidak ada yang diperoleh oleh kaum musyrikin kecuali kerugian di dunia dan akhirat. Di dunia mereka tidak memperoleh jawaban (atas permintaan mereka), dan di akhirat ibadah mereka diingkari dengan hujjah yang lebih kuat daripada ketika di dunia.
Rukun ketiga dari rukun iman kepada Allah yaitu beriman dengan keesaan Allah, dalam Asma dan Sifat-Nya (dalam Nama, nama dan Sifat-sifat-Nya). Dan bahwasanya Allah mempunya Nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang indah.
Allah berfirman.
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Nama-nama-Nya, Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Araf (7): 180)
Allah juga berfirman:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى…
“Katakanlah (Muhammad), Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma’ul husna) ….” (QS. Al-Isra (17): 110)
Allah juga berfirman:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)
“Dialah Allah Yang tiada ilah yang berhak disembah kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asma-ul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr (59): 23-24)
Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya telah tetapkan atas Diri-Nya, berupa nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kita wajib menetapkan Nama dan Sifat Allah sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur-an dan as-Sunnah, dan tidak boleh ditakwil.
Maka barangsiapa yang tidak beriman dengan Nama-nama Allah dan Sifat-sifat-Nya, berarti dia tidak beriman kepada Allah. Karena tidak mungkin seseorang dikatakan beriman kepada Allah jika ia mengingkari Nama-nama Allah walaupun hanya satu. Karena mengingkari satu saja dari Nama dan Sifat Allah, maka itu adalah suatu kekufuran.
Dalilnya adalah Firman Allah:
…وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ…
“.. Padahal mereka ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih ….” (QS. Ar-Rad (13): 30)
Syaikh Sulaiman bin Abdullah (wafat th. 1233 H) berkata: “Karena Allah telah menamakan mereka yang mengingkari satu dari Nama-nama-Nya (yaitu ar-Rahman) dengan kafir, maka hal ini menunjukkan bahwa mengingkari bagian dari Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya adalah kafir. Dengan demikian, siapa saja yang mengingkari sesuatu dari Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, baik itu orang-orang filsafat, Jahmiyah, Mu’tazilah, atau selain mereka pun termasuk kafir, sesuai dengan kadar pengingkaran mereka terhadap Nama-nama dan Sifat-sifat Allah tersebut.”
Beliau juga berkata: “Bahkan kami katakan: Barangsiapa yang tidak beriman kepada Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, maka dia bukan termasuk orang-orang yang beriman. Dan barangsiapa di dalam hatinya ada rasa keberatan akan hal itu, maka dia seorang munafik.”
Ini adalah makna iman kepada Allah. Dan rukun ini dibangun di atas tiga rukun. Agama Islam ini dinamakan agama tauhid karena keimanan di atas tauhid kepada Allah baik dalam rububiyah-Nya, Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, juga dalam uluhiyyah-Nya.
Seseorang tidaklah dikatakan beriman kepada Allah kecuali dia beriman dengan ketiga rukun ini. Juga beriman dan melaksanakan konsekuensi dari keimanan ini dengan mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya.


